7:44 AM

Seputar Sejarah Islam (ASAL USUL KERAJAAN DAULAT USMANIYAH)

Pernahkah anda membaca buku atau mendengar tentang sejarah umat islam di abad pertengahan. Bahasa kerennya Middle Ages. Dulu, waktu penulis masih sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP, sampai SMU sulit sekali menemukan buku pelajaran agama yang membahas sejarah umat islam masa lampau. Kalaupun ada, hanya sebagian kecil saja. Mungkin ini hanya sebatas pandangan dan pengalaman pribadi penulis saja, sejak memasuki bangku sekolah. Bagaimana dengan anda sendiri ?. Penulis rasa anda sendiri yang tahu jawabannya.

Harap diperhatikan baik-baik: “Tulisan dalam artikel ini tak ada maksud untuk menghasut atau menimbulkan keresahan bagi yang membacanya. Dan tak ada niat untuk menjelekkan agama lain atau suku bangsa yang terlibat dalam tulisan kali ini. Sebatas sejarah singkat yang penulis angkat dari berbagai buku bacaan dan berselancar di internet dalam mencari berbagai informasi yang berhubungan dengan tulisan ini”.


Mari Kita Mulai.

Sesudah runtuhnya kerajaan Baghdad dan naiknya bangsa Mongol dan Tartar, boleh dikatakan tak ada lagi sebuah Kerajaan Islam yang besar. Dan dapat menjadi tumpuan harapan Dunia Islam. Negeri-negeri Islam terpecah belah, apalagi wilayah kekuasaan Islam memang telah luas sekali. Tetapi dengan timbulnya Kerajaan Usman atau Daulat Usmaniyah, Islam kembali menunjukkan tajinya dan dapat menyambung usaha membangun kejayaan mereka kembali. Daulat Usmaniyah sampai pada permulaan abad ke dua puluh telah dapat mempertahankan kemegahan Islam.

Seratus tahun yang telah lalu, negeri-negeri di Eropa Timur (Balkan) adalah kerajaan yang bernaung dibawah perintah kerajaan Turki Usmani. Kekuasaannya meluas di bekas kekuasaan kerajaan Byzantium (Constantinopel). Setelah negeri besar itu ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada pertengahan abad kelima belas (1435). Dan pernah pula Sulaiman Al-Qunani dua kali menyerang kota Vienna, pusat kerajaan Austria. Maka sampai sekarang ini masih terdapat kaum muslimin di negara Bulgaria, Yugoslavia, Cekoslavia, Polandia, yaitu dari keturunan pahlawan Islam Turki Usmani yang pernah menancapkan bendera ”Bulan Bintang” di negeri-negeri itu.

Negeri-negeri Islam seperti Mesir, Hejaz, Yaman, Irak, Palestina, Tunisia, Maroko, Al Jazair dan Tripoli, semuanya itu dahulunya adalah wilayah kerajaan Turki Usmani juga. Bangsa Turki memang bangsa yang gagah perkasa, keturunan darah Taurani yang tahan panas dingin dan sabar dalam berperang. Darah Taurani bersamaan dengan darah Mongol dan Tartar. Maka bangsa pengembara yang gagah dan perkasa itu telah menjadi bangsa Pahlawan-Islam setelah mereka memeluk agama Islam dan mengucapkan dua kalimat Syahadat: ”Tiada Tuhan Selain Allah, Dan Muhammad Adalah Utusan Allah”.

Bahkan raja-raja Islam di Indonesia pada abad ke tujuh belas seperti raja dari Aceh dan Bantam pernah menjalin hubungan dengan kerajaan Turki Usmani. Dan pernah meminta pengakuan memakai gelar ”Sultan” dari Istambul. Dalam bebrapa istana Raja-Raja di Indonesia masih dapat dilihat sisa-sisa hadiah yang dijadikan lambang kebesaran, karena hadiah tersebut dari Istambul. Sebagai contohnya adalah lambang kerajaan Minangkabau-Islam ialah sebuah cap raja Turki (bernama Thaghraai) masih disimpan oleh anak cucunya di Pagaruyung. Ulama yang ada di Indonesia pada saat itu pernah belajar dan mendalami agama Islam di Mekah. Tatkala negeri Mekah dibawah pemerintahan kerajaan Turki Usmani.

Nama kerajaan Usmaniyah itu diambil dari nama pendahulu mereka yaitu Sultan Ibn Sauji Ibn Arthogrol Ibn Sulaiman Syah Ibn Kia-Alp. Kepala kabilah Kabi di Asia Tengah. Tatkala bangsa Tartar bangkit dan menyerbu ke Dunia kaum muslimin (Islam), mereka menyerang, membakar, membunuh, dan merampas, maka Sulaiman Syah, kakek dari Sultan Usman melihat bahaya itu bagi negerinya di Mahan. Maka diadakanlah mufakat dengan anggota persukuannya yang besar itu supaya lekas pindah ke negeri lain yang lebih aman, yaitu tanah Anatolia. Sebuah daerah di Asia kecil. Kehendaknya ini dituruti oleh anak buahnya. Mereka semuapun berangkat menuju Anatolia, meninggalkan kampung halaman. Karena bila tentara Tartar masuk, tiada lagi yang bisa dipertahankan. Adapun jumlah anak buahnya yang ikut berjumlah 1000 orang berkuda. Kejadian ini terjadi dalam abad ke tujuh tahun Hijriyah.

Dalam perjalanan, mereka berhenti di negeri Achlat. Tapi tak lama kemudian tentara Tartar sampai pula ke negeri itu. Terpaksa mereka pindah ke negeri Azerbiyan. Kemudian terdengar berita bahwa gelombang bangsa Tartar itu telah jauh dari negeri asli (tanah air) mereka Mahan. Maka sultan Sulaiman Syah ada keinginan untuk kembali pulang. Lalu mereka segera kembali dan melaksanakan niat Sultan tersebut. Dalam perjalanan pulang kembali ke negeri Mahan, sekian lamanya mereka berhenti di Benteng Ja’bar dalam wilayah Orga. Setelah itu menyeberang sungai Euphrat. Tiba-tiba ada banjir besar, sang kepala kabilah Sulaiman Syah tenggelam dalam sungai yang besar itu dan tidak dapat ditolong. Jenazahnya dimakamkan dekat benteng Ja’bar.

Beliau meninggalkan empat orang putra, yaitu Sankurtakin, Kun-Togdai, Arthogrol dan Dandan. Dan anak yang pertama melanjutkan maksud Ayahnya, pulang ke kampung halaman. Anak yang kedua, yaitu Arthogrol dan Dandan meneruskan niat Ayahnya yang kedua untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Anatolia, mencari daerah yang subur. Mereka memilih tanah Erzerum. Arthogrol diangkat oleh pasukannya menjadi kepala kabilah. Adapun yang pulang kembali ke negerinya, tidak terdengar khabar beritanya lagi dalam sejarah.

Setelah kedua saudara yang kecil sampai ke daerah Anatolia, maka Arthogrol mengutus puteranya Sauji menghadap Sultan Alaed-Din Kaiqubaz, seorang raja Saljuk Rumi memohon pada baginda supaya memberikan izin berdiam di wilayah kekuasaannya. Dan memohon diberi tanah untuk bercocok tanam dan menggembalakan ternak mereka. Permohonan itu diperkenankan oleh Sultan Alaed-Din Kaiqubaz. Dalam perjalanan pulang hendak menyampaikan berita baik ini kepada Ayahnya, meninggallah Sauji.

Setelah jenazah Sauji dimakamkan dalam keadaan girang mendapatkan tanah dan sedih karena kematiannya, mereka pun meneruskan perjalanan menuju tanah yang dihadiahkan. Tiba-tiba di tengah perjalanan mereka melihat dua angkatan tentara tengah bertempur hebat. Yang satu pihak jumlahnya besar, sedang pihak lawan jumlahnya kecil. Maka timbullah semangat keadilan pada pihak Arthogrol. Dengan segera dia menyerukan anak buahnya supaya segera menyerbu ke medan perang itu dan berdiri pada pihak yang lemah. Semangat mereka bertambah ketika diketahui bahwa pihak lawan yang lebih kuat ternyata tentara Mongol. Musuh besar mereka, dan pihak yang mempertahankan negerinya dari serangan bangsa Mongol itu tentara Sultan Alaed-Din Kaiqubaz. Karena datangnya bantuan yang tiba-tiba itu, maka keadaan berbalik. Serangan Mongol dapat dipatahkan dan kedudukan tentara Saljuk yang sejak semula bertahan, memperoleh kemenangan. Dengan segera tentara Mongol mengundurkan diri.

Betapa gembira Alaed-Din Kaiqubaz mendengar berita kemenangan ini. Arthogrol lalu diundang untuk datang ke istana dan diterimanya dengan serba kehormatan. Diberi pakaian dan diberikan pula tanah serta wilayah kekuasaan lebih luas dari yang telah dijanjikan kepada putranya Sauji. Dan apabila peperangan dengan pihak musuh, Arthogrol senantiasa membawa anak buahnya memberikan bantuan kepada Alaed-Din Kaiqubaz dengan penuh kesetiaan. Setiap mencapai kemenangan, sultan memberinya hadiah berupa wilayah tanah yang baru, ditambah dengan harta benda yang banyak. Pada waktu itu tentara Arthogrol diberi gelar oleh Sultan: ”Muqaddamah Sultan (Tentara Pelopor Baginda)”. Karena bila berperang, tentara Arthogrol selalu di barisan paling depan. Pada tahun 687 hijriyah, 1288 masehi, mangkatlah Arthogrol. Sebagai gantinya sultan Alaed-Din Kaiqubaz menunjuk cucunya yang paling tua, yaitu Usman putera dari Sauji.

Pada tahun 699 hijriyah, 1300 masehi, tiba-tiba datang lagi serangan hebat bangsa Tartar ke Asia kecil. Begitu gagah dan perkasa Usman mempertahankan wilayahnya dan wilayah sultan Alaed-Din Kaiqubaz yang telah berjasa menaikkan bintangnya. Sehingga serangan bangsa Tartar dapat dipatahkan. Saat itu sultan Alaed-Din Kaiqubaz memberi gelar Usman ”Bey” karena kesetiaan dan memimpin perang dengan gagah berani. Diberi pula daerah merdeka yang luas tanahnya dan boleh memakai mata uang sendiri. Serta diperbolehkan memakai nama sendiri saat khutbah shalat Jum’at.

Selang beberapa lama kemudian sehabis merayakan kemenangan, mangkatlah sultan Alaed-Din Kaiqubaz. Sedangkan keturunannya sendiri tidak layak menjadi raja. Sehingga putuslah kerajaan Saljuk Rumi dengan sebab kematian itu. Maka terbukalah jalan bani Usman untuk naik tahta. Kedudukannya diperteguh dan memperkuat pertahanan di basis wilayah mereka dan memakai gelar ”Padisyah Aal Usman (Raja Besar Keluarga Usman)”. Memilih negeri Iskisjihar menjadi pusat kerajaan. Pada masa inilah pertama kali kerajaan Daulat Usmaniyah mulai menunjukkan nama besar keluarga mereka.

Selengkapnya...

7:43 AM

Sukses Dalam Pergaulan ?, Siapa Takut !

Bila bicara tentang pergaulan, banyak faktor yang mendukung. Seperti hubungan dengan keluarga, tetangga, orang yang belum anda kenal, bahkan adaptasi bersama lingkungan tempat tinggal anda saat ini. Secara umum memang seperti itu. Tapi yang jadi masalah adalah tergantuing sudut pandang masing-masing individu. Nah, yang satu ini memang berat. Soalnya setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Apa anda tahu isi kepala setiap orang ?, saya rasa tidak.

Baiklah sepin-sepi, cukup basa basimu. Berikan pada semua orang tipsmu mengenai pergaulan. Siapa tahu ada yang berminat. Let’s do it my friends.
Inilah lima langkah sakti agar dalam pergaulan bisa sukses :
1. Sleep (Tidur)
Mungkin ada yang bertanya, lho kok tidur. Lantas apa hubungannya dengan pergaulan sehari-hari. Pembaca yang terhormat, dalam pergaulan apa yang kita butuhkan adalah energi. Salah satu sumber energi tersebut yaitu tidur. Mengapa hal itu perlu dilakukan ?, karena untuk melakukan aktivitas, anda sangat membutuhkannya. Tidur merupakan rangkaian kegiatan untuk mengembalikan energi yang hilang pada tubuh. Merenggangkan sel syaraf otak dan menenangkan pikiran bila sedang kalut. Sehingga jiwa terasa aman dan tenteram. Coba kalau anda kurang tidur. Tubuh terasa lesu, mata merah merona, dan pikiran selalu jenuh. Alias tak punya semangat.
Hal itu sangat berbahaya dalam pergaulan. Sebagai contoh saat anda bertemu dengan orang lain. Andaikan saja terjadi sebuah percakapan yang panjang. Saat lawan bicara anda begitu semangat dalam merangkai kata, anda sendiri hanya bisa menganggukkan kepala. Entah itu mengerti atau tidak. Karena masih mengantuk dan mata sembab. Tidak ada semangat untuk bercakap-cakap dengan orang lain, bahkan keluarga. Kalau sudah begini jadinya, mungkin lawan bicara anda bisa tersinggung karena kita hanya bisa bergumam dalam hati. Ada kemungkinan terjadi komunikasi dua arah akibat kita kehilangan energi. Semangat padam, lampu kuning menyala (maksudnya hati-hati).
Oleh karena itu berusahalah untuk tidur selama delapan jam dalam satu hari. Begitu bangun keesokan harinya tubuh terasa fit dan siap melangkahkan kaki dalam pergaulan dan aktifitas sehari-hari.
2. Sweet (Manis)
Bersikaplah manis terhadap semua orang yang anda temui. Walau dalam hati merasa gundah. Maksudnya adalah gerak-gerik atau perkataan memegang peranan penting dalam pergaulan. Terutama untuk menjaga sikap. Agar terhindar dari cek-cok saat anda bicara pada seseorang yang anda temui di jalan, mall, atau tempat lainnya. Misalnya kepada teman atau kerabat dekat. Pokoknya kepada siapa saja, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, dan orang yang sudah tua. Sikap manis memegang peranan penting dalam pergaulan sehari-hari. Jangan pernah lupakan hal tersebut.
3. Smile (Senyum)
Ada pepatah mengatakan senyum membawa berkah dalam kehidupan. Ternyata pepatah itu memang benar. Apa jadinya andai saja setiap manusia sulit untuk tersenyum. Mungkin tak ada namanya hubungan antar manusia (pergaulan). Lewat senyum anda bisa meneduhkan hati orang lain yang melihat senyuman itu. Sikap kasih dan cinta pun secara tidak langsung terbentuk lewat senyuman. Coba anda bayangkan apabila seseorang yang anda cintai menyambut setiap kedatangan kita ke rumahnya tersenyum manis. Hal ini akan membuat hati anda merasa sejuk nan damai. Sayang hal ini belum banyak orang yang bisa menghargai arti sebuah senyuman.
Bila suatu saat nanti anda bertemu dengan orang yang lagi lewat atau bertamu ke rumah, cobalah untuk tersenyum. Mereka pasti membalasnya. Bayangkan pula seandainya raut wajah anda cemberut, kesannya kurang baik. Dan dianggap sebagai manusia robot yang hidup dalam kekakuan. Kalau bisa berikan setiap orang yang anda jumpai. Secara tidak langsung anda sudah menyapanya, walaupan sebatas gerakan salah satu anggota tubuh. Namun perlu waspada sedkit. Jika anda kebanyakan senyum, bisa disangka orang gila. Berikan senyum itu pada tempatnya dan awali setiap pergaulan untuk selalu tersenyum. Sehingga dunia pun tersenyum melihat anda.
”Senyum dong nak, kok cemberut sih”, begitu kata Ibu waktu masih kecil dulu. Anda masih ingat, saya rasa orang tua anda pernah mengatakannya.
4. Sight (Tatapan)
Ketika anda berbicara dengan seseorang, berusahalah untuk menatapnya. Namun jangan kebanyakan menatap, bisa jadi lawan bicara akan kaku melihat tatapan anda. Dan jangan sering menundukkan kepala, kesannya kurang berwibawa, malah anda bisa dilecehkan (tidak dihargai). Maksud saya berwibawa itu bukan berarti gila hormat. Maksudnya agar lawan bicara sedikit tergugah hatinya dan tidak meremehkan anda. Anda bisa mencobanya dan harus selalu ingat betapa pentingnya arti sebuah tatapan dalam pergaulan sehari-hari.
5. Appeal (Daya Tarik)
Apakah penting daya tarik ini ?, bagi saya pribadi hal tersebut memegang peranan penting dalam pergaulan. Saat kita bertemu dengan seseorang, baik itu laki-laki maupun perempuan. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menatap bentuk atau potongan tubuh anda. Terlebih lagi untuk kaum hawa, mereka selalu antusias dalam hal ini. Mulai dari cara berpakaian, bentuk sisiran rambut, gaya bicara, dan sebagainya.
Jadi daya tarik itu erat hubungannya penampilan anda sehari-hari. Menurut ahli ilmu jiwa (psikologi), ada hubungannya dengan kepribadian seseorang. Seperti kata pujangga “Kesan Pertama Begitu Menggoda, Selanjutnya Terserah Anda”. Wah, kayak iklan di televisi ya. Tapi memang begitu adanya, dan anda tidak dapat menghindarinya. Camkanlah dalam hati.
Dari uraian singkat mengenai pergaulan, mudah-mudahan anda bisa mengerti maksud dan tujuan yang saya sampaikan. Penulis hanya bisa menyampaikan apa adanya menurut pengalaman sendiri. Di satu sisi mungkin ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Toh, tidak menjadi masalah selama membawa kebaikan diri sendiri dan orang lain
Akhir dari penulisan artikel ini, penulis minta maaf bila terdapat kata atau kalimat yang salah. Kepada guru atau maha guru bidang komunikasi atau psikologi, maafkanlah saya sebagai pemula yang mencoba merangkai kata dalam bentuk tulisan.
Author: Sepin-sepi
Sumber: Dari berbagai bahan bacaan di Internet

Selengkapnya...

7:40 AM

KESUSASTERAAN LAMA DAN BARU INDONESIA TEMPO DULU

Suatu ketika penulis pernah bertemu dengan seorang Bapak Tua berpeci putih. Saat itu penulis lagi berada di dalam warteg alias warung tegal. Sambil minum kopi kental tapi kurang gula Bapak itu bertanya. ”Eh mas, pernah nggak denger sastra lama dan sastra baru ?”

Seketika penulis jadi bingung sendiri. ”Nyastra ?!@#$”, pikir penulis dalam hati. Nih orang tua mau tanya atau malah meremehkan. Emang waktu SMU dulu pernah belajar Bahasa Indonesia. Tapi karena ogah-ogahan mendengar ocehan sang guru, malah nggak konsentrasi. Nah, waktu Bapak ini menanyakan kembali, penulis cuma bisa garuk-garuk kepala.

”Sastra Pak, udah lupa tuh”, jawab penulis sok kalem. Dan Bapak Tua ini senyam senyum kayak sufi melihat raut wajah muridnya yang lagi bingung sendiri.

Kejadian ini sudah lima tahun lamanya berlalu, dan masih membekas dalam hati penulis. Soalnya malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Baiklah pembaca yang terhormat, melalui tulisan berikut ini penulis mencoba menjelaskan apa itu sastra lama dan baru yang ada di Indonesia tempo dulu. Diambil dari beberapa buku ”Pengantar Sastera Indonesia”.


Kesusasteraan di Indonesia umumnya dapat dibagi menjadi dua zaman :
1. Zaman Lama
2. Zaman Baru

Adapun kesusasteraan baru dapat kita bedakan sebagai berikut ini:
1. Masa Sebelum Pujangga Baru
2. Masa Pujangga Baru
3. Masa Angkatan 45

Soal lama atau baru dalam kesusasteraan Indonesia erat kaitannya dengan kebudayaan yang ada di Indonesia. Dalam sebuah pelajaran sosiologi dan antropologi kita pernah mengenal kebudayaan. Arti dari kebudayaan secara singkat adalah hasil daya upaya manusia dalam membentuk sebuah masyarakat. Jadi, soal lama atau baru dalam kesusasteraan adalah bagaimana masyarakat membentuk kebiasaannya sendiri dengan berbagai macam ciri khas setiap individu tanpa melupakan sumber dari sastra tersebut.

Misalnya kesusasteraan Baru yang ada di Indonesia terpengaruh oleh kesusasteraan yang ada di Barat. Sedangkan kesusasteraan Lama tidak terpengaruh sama sekali dan memegang teguh prinsip mereka dari dulu. Baiklah, mari kita tinjau lebih jauh lagi.
Kesusasteraan Lama Indonesia

Kesusasteraan Lama di Indonesia masih terpengaruh oleh kekuasaan adat dan kebiasaan yang telah turun temurun. Anggotanya tidak bebas dalam menyatakan pendapat atau perasaannya yang berbeda dari kebiasaan yang telah ada. Mereka tidak berani melawan kebiasaan tersebut yang telah turun temurun itu. Jadi setiap hasil seni sastranya menggambarkan kesederhanaan dalam bentuk dan isinya.

Semua puisi lama memiliki bentuk yang sama, demikian pula prosanya. Oleh sebab itu maka kesusasteraan lama dianggap statis, tetap tiada berubah-ubah. Hampir seluruh prosa lama menggambarkan kegagahan dan kemewahan seorang raja atau pemimpin dengan puterinya yang cantik serta pahlawannya yang berani.
Kesusasteraan Baru Indonesia

Berbeda dengan kesusasteraan lama, maka kesusasteraan baru tidak lagi terikat oleh kebiasaan lama dan adat yang telah usang. Kesusasteraan baru mencerminkan kehendak bebas dari kungkungan kebiasaan dan adat kuno, lebih bersifat perseorangan (individu). Pribadi pengarang menjadi soal mutlak. Tidak lagi seragam, melainkan telah berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan pribadi yang menjadi penggugahnya.

Itulah sebabnya mengapa kesusasteraan baru dianggap lebih dinamis (bersifat terbuka), hidup, beraneka ragam menurut keinginan pribadi masing-masing untuk menciptakan sebuah karya sastra. Prosa baru tidak lagi menggambarkan alam istana yang penuh kemewahan hidup raja-raja dengan putrinya yang cantik serta pahlawannya yang gagah perkasa. Melainkan bercerita tentang kehidupan manusia biasa dengan segala tabiatnya, serta keinginan yang dilapisi oleh suka maupun duka. Tegasnya kesusasteraan baru membawa kita ke dalam dunia nyata, bukan dunia penuh khayalan.

Dari dua perbedaan yang disebutkan di atas, lahirlah pujangga pada zaman mereka masing-masing. Perbedaannya cukup menyolok, baik dalam pandangan hidup dan cita-cita, maupun saat mencurahkan isi hati dan pikiran. Perbedaannya dapat kita lihat dibawah ini.

- Pujangga Lama

Sangat terikat dengan kebiasaan dan adat istiadat lama, tidak berani mengemukakan kesalian pribadinya sendiri, dalam mengemukakan pendapat berlaku sebagai seseorang yang selalu bersifat berat sebelah (yang baik dipuji setinggi bintang di langit, kalau buruk selalu dihina atau dimaki habis-habisan), ide cerita senantiasa berkisar seputar perjuangan antara baik dan buruk sifat manusia, diakhiri kemenangan di pihak yang baik dan bagi pihak yang jahat pasti kalah.

- Pujangga Baru

Tak mau lagi terikat oleh adat istiadat yang membelenggu, mementingkan keaslian pribadi, dalam mengemukakan suatu pendapat berlaku sebagai orang yang adil, ketika melukiskan suatu kebaikan atau keburukan berpegang pada hukum yang menyatakan baik dan buruk itu tak ada jurang pemisah, tak selamanya kemenangan diperoleh oleh pihak yang baik dan demikian pula sebaliknya.


Wah, ternyata perbedaan antara kesusasteraan lama dan baru itu cukup banyak ya. Walaupun ada juga ciri khasnya yang sama menurut penulis. Yaitu sama-sama menuangkan isi pikiran dalam merangkai kata menjadi kalimat. Oke, sampai disini dulu pembahasan kita mengenai nyastra lama dan nyastra baru tempo dulu di Indonesia. Salam buat sastrawan muda maupun yang udah pada bangkotan di abad Teknologi dan Informasi. Semoga mendapat pencerahan walau sinar mentari tak lagi bernyanyi seperti dulu.

Selengkapnya...

7:37 AM

Karya Sastra Oleh Kelana Tiga Zaman

Kelana tiga zaman yang ikut memberikan sumbangan tulisannya pada sepin-sepi...

CINTA

Oh tuhan, benarkah cinta itu bertalian dengan airmata ?. Bila engkau mengatakannya demikian, izinkan aku memulainya untuk mencari sebuah cinta yang besar pengorbanannya. Tertata rapi beralaskan kasih sayang yang manis bagai lautan yang biru. Di dalamnya terdapat kebenaran sederhana tentang cinta. Ingin aku mendapatkannya dan mulai dari awal untuk meneduhkan hati seseorang yang membuat hidupku jadi berarti. Pertama kali kukenal, ia menyapa dengan sebuah senyuman. Kemudian senyum itu tak lagi berarti untuk menghiasi hari-hariku yang penuh mimpi.

Masih teringat dalam pikiranku ia pernah berkata, ”Bahwa dunia ini akan terasa hampa tanpa ada cinta didalamnya”

Mendengarnya membuatku seperti berada di waktu dan dunia yang lain. Namun ia yang pertama kali datang dalam hidupku dan selalu mengisi hatiku. Menyanyikan sebait lagu dan membuat bayangan liar dalam diriku. Mengisi jiwa penuh lika liku cinta dan kasih sayang kemanapun aku pergi. Tak pernah merasa sendiri dan takkan merasa kesepian. Tangannya selalu kugenggam agar selalu bisa berada dekat dengannya. Tapi, berapa lama semua itu bisa bertahan. Bagaikan mengukur hari demi hari yang tak pernah tahu apa jawabannya.

Aku sangat membutuhkannya, dan berapa banyak yang bisa kukatakan. Seperti pijaran lampu yang mulai redup saat ia berada dalam lukisan tanpa warna. Setiap hari berharap agar bisa bertemu lagi dan ia menyambutku penuh tawa dan senyuman. Bila rindu menyelinap dalam jiwa untuk mengembalikan cintanya yang telah hilang. Saat kulihat kapal telah berlayar jauh dan tak tahu kapan akan kembali lagi.

”Mungkinkah semua itu bisa tertata lagi ?, hanya waktu yang berbicara”

Dalam tidur aku mendapat mimpi melihat seekor burung yang sedang terbang melintasi pekatnya malam. Mencari tangisan dalam angin ketika sayapnya telah patah. Saat terbangun dari tidur keesokan hari, ingin rasanya diriku mengarungi lautan yang luas hanya untuk mencoba menemukan keteguhan hatiku.

Bila malam telah tiba, kulangkahkan kaki pergi ke sebuah taman usang untuk menemukan arti dalam gelap malam. Apa yang kucari hanya untuk menggapai hatinya, walau hembusan angin membuatku sendiri dalam kegelapan. Aku hanyalah manusia biasa yang tak ingin merasakan sepi menanti dalam kabut yang penuh bercak kehidupan. Karena menahan perasaan rindu di antara batas penglihatan, ketika berada di suatu pulau dan hidup terasa asing.

Temanku pernah berkata, ”Jalan hatimu telah patah yang membuat dirimu menderita”

”Aku selalu berusaha menghilangkannya, tetapi semua itu sia-sia belaka. Seperti menangis dalam hujan”, jawabku penuh kepalsuan.

”Kawan, kau harus bisa menyambut pagi seperti burung-burung yang bernyanyi. Agar hidupmu selalu ceria”, kembali temanku ini memberikan semangat.

Perlahan nafasku terasa berat. ”Sayang aku bukan bagian dari sayap mereka. Kau tahu kenapa ?, karena diriku hanya bisa berdoa dalam keadaan putus asa”

Kukatakan sekali lagi pada temanku ini. ”Itulah semua tentang diriku”

Aku sendiri tak tahu kenapa pasangan hidupku mengucapkan selamat tinggal. Dan membiarkanku tahu bahwa selamanya ia pergi bersama cintaku.

Pernah ku memohon padanya, ”Kenapa kau tega membuatku menangis ?”

Ia hanya bisa menjawab, ”Hanya beberapa yang bisa berubah, mungkin dilain waktu. Biarkan aku menghadapi kenyataan yang tidak pasti dan biarkan diriku merasakan kehilangan dirimu”

Kata-kata mutiara itu membuat mataku sebening embun pagi hari. Lalu aku berkata padanya, ”Kembalilah padaku, dan kita berdua akan bahagia selamanya”

Seketika itu juga pasangan hidupku bibirnya melingkarkan senyum terakhir padaku dan berkata, ”Mungkin hari ini aku bisa membuatmu tinggal bersama hanya untuk sebuah senyuman dalam cinta. Tapi..., aku ingin menunjukkan padamu kebahagiaan dalam dunia ini sangat sulit untuk diraih”

Setelah semua usai baru aku sadar, ternyata masa lalu seperti cahaya yang menyinari sudut mataku. Penuh kabut dan membentang dimana jalan kita berada.

Sampai sekarang diriku bagaikan orang asing berdiri tegak menatap kota yang hilang. Membayangkan bagaimana malam bisa berubah dan membagi cinta diantara liku-liku waktu. Seperti air yang mengalir dalam sebuah sungai, gelap dan terlalu dalam. Kita bisa tergelincir tanpa bisa kembali lagi. Mungkin kemarin kita bisa melihat bahwa semuanya terlalu jauh, namun bisa berubah dalam sekejap membentuk bayangan yang menggantung. Begitu dekat dengan tempat tinggal kita.

Cuma satu pintaku dan berkata padanya kenapa aku meninggalkan kehidupan dan aku sendiri tak tahu kenapa. Sebatas mencoba memahami bagaimana hidup bisa terjadi dan memulainya lagi dengan kesendirian. Aku tahu, bahwa ia mencintaiku dengan tulus dan memberikannya untukku. Ia yang memberiku semangat untuk bebas dan diriku sangat senang melakukannya.

Seperti sebuah buku yang kita baca halaman demi halaman, cinta yang telah hilang membuatku percaya bahwa meja tanpa kaki hanya untuk satu orang. Yaitu diriku yang berdiri dalam sebuah ruangan, ketika musik menyediakan minuman sebagai persembahan untuk sebuah kenangan yang suram.

Author: Kelana Tiga Zaman

Cerpen ini dipersembahkan khusus bagi Yang Muda Yang Bercinta. Akhir kata, selamat membaca.

Selengkapnya...

7:35 AM

Karya Sastra

Sebagai bahan renungan, marilah bersama-sama kita baca karya sastra seorang penulis dari Pujangga Besar bangsa Mesir tempo dulu yang bernama MUSTHAFA LUTHFI AL-MANFALUTHI (1876-1924 M). Judulnya adalah ”Kematian”. Anda ingat dengan kematian anda sendiri ? Sadarilah mulai sekarang bahwa hidup ini tidak semata mengejar uang dan kekuasaan. Begitulah kata Pujangga Mesir yang satu ini.

”Kematian”

Genta telah berbunyi menandakan sore telah berebut senja. Sedang keindahan siang berangsur-angsur menghilangkan diri dari pandangan mata. Dalam pada itu kumpulan-kumpulan binatang ternak telah kembali dari padang-padang rumput pulang ke kandangnya. Dari belakang kelihatan digiring oleh penggembalanya dengan tongkat yang ada ditangannya. Bukan hendak menyakiti binatang-binatang gembalaan kesayangan mereka, melainkan menjaga jangan sampai binatang-binatang itu tersesat di jalan, tentu segera ditunjukkannya ke arah jurusan yang benar.

Alam luas terbentang ini mulai ditutupi oleh tabir kegelapan seakan-akan tertidur sebagai manusia tidur. Hingga tak lagi dipedulikannya betapa dingin dan hantu malam serta kesepian yang menakutkan telah menjalar keseluruh pelosoknya. Sehingga tak ada lagi yang kedengaran kecuali nyanyian burung perkutut yang memuji-muji dan berterima kasih kepada bulan yang telah memberikan cahaya. Menyebabkan kedua sayapnya berkilau-kilauan bersama suara katak yang membawa keluhan bumi ini terhadap Allah SWT. Disebabkan manusia telah menginjak-injak dan merusakkan dasar-dasar tempat mendirikan rumah yang disucikan.

Disana, dibawah naungan pohon-pohon kayu besar yang telah kering, kelihatanlah penghuni sebidang tanah itu tertidur lama. Ia bahkan lebih dari lama, sebab tidurnya itu adalah tidur abadi yang tiada akan berakhir.

Udara yang sejuk nyaman di pagi hari, kicauan burung di udara, kokok ayam jantan, diiringi suara genta dan lonceng serta bunyi telapak kaki binatang ternak. Semuanya itu tidaklah akan dapat membangunkan mereka dari tidur yang tak ada kesudahannya itu lagi.

Apakah mereka diterpa hembusan angin badai, sebab tak tampak sedikitpun cahaya pelita yang dinyalakan di gubuk mereka sekalipun hari telah malam. Sedangkan isteri yang patuh taat tak pula tampak keluar masuk yang akan menyediakan makan malam untuk mereka. Anak-anak kecil yang penuh riang menyambut kedatangan mereka tidak pula ada.

Orang-orang yang tertidur dan diam ini, kemarin masih sangat gagah kuat perkasa. Pundaknya masih sanggup menyandang bajak menggerakkan luku membalik-balikkan bumi. Dan dahan-dahan kayu besar pecah berkeping-keping bekas pukulan kapak dan linggis mereka.

Kemarin mereka masih kelihatan riang gembira, bersiul bernyanyi diliputi kebahagiaan dalam segala macam hidup yang mereka lalui. Mereka bersuka cita menyimak bunyi telapak ternak mereka diatas lumpur, seolah-olah mendengar bunyi suara gitar dipetik. Mereka menikmati kesenangan tidur diatas dahan kayu yang telah kering, sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain dalam gedung di atas kasurnya yang tebal. Mereka rasakan kelezatan sesuap nasi kering sebagaimana orang-orang kaya mengecap pelbagai macam hidangan di atas meja. Mereka rasakan kesejukan dan kepuasan meminum seteguk air yang mereka sauk dengan telapak tangan. Sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang meneguk anggur murni dari gelas kristal atau cangkir emas.

Orang-orang terpendam tak dikenal ini yang tidak pernah didirikanbaginya tugu-tugu peringatan atau dibikin kubah-kubah atas pemakaman mereka, adalah termasuk orang-orang besar dan hormat didalam masa hidupnya. Sebab mereka berkasih-kasihan antara satu sama lain, yang takir tidak mendengki terhadap yang kaya, si kuat tidak menindas terhadap si lemah. Tidak ada pada mereka sifat-sifat dengki, busuk hati, menipu, mengicuh — menohok kawan seiring menggunting dalam lipatan — dan mereka tidak menyembah Tuhan selain dari pada Allah. Demikianlah mereka kemarin, dan kini mereka telah diapit kubur, maka rahmat serta karunia Allah jualah atas mereka, dihari mereka berada di atas bumi dan sesudah mereka di dalam perut bumi ini.

Maka hendaklah orang-orang yang senantiasa menunjukkan pandangan dalam hidup ini untuk mencari kebesaran dan keutamaan — baik harta benda kekayaan maupun pengaruh dan kedudukan — mencoba merundukkan diri diatas tanah perkuburan yang pasirnya berserakan. Dan batunya bertaburan kian kemari, akan sampai pula kepada kejadian yang sama dengan orang-orang yang telah di dalam kubur ini. Oleh karena itu hendaklah mereka menahan diri dari menonjolkan kemuliaan dan pengaruh, sebab banyak emas perak dan pengikut, kurangilah dari diri mereka senyum dan tertawa yang menggambarkan penghinaan, dan memandang rendah kepada orang lain. Dan hendaklah mereka ketahui bahwa jalan kemuliaan dan kebesaran yang mereka lalui. Sekalipun indah cantik menghijau penuh dilindungi ranting dan dahan-dahan yang lebat ditutupi kembang dan bunga yang aneka warna, tak dapat tidak akan berakhir juga.

Wahai orang-orang yang tenggelam dalam kenikmatan hidup yang senantiasa menonjolkan kemuliaan dan pengaruh mereka, bermegah-megah dengan kekuatan dan kebagusan, janganlah kamu merendahkan orang-orang malang yang telah dikuburkan ini. Jika kamu lihat tubuh mereka telah hancur berserakan, kubah mereka runtuh serata bumi, nama-nama mereka tidak kelihatan di lukis dengan berbagai macam warna indah di atas papan nisan mereka. Simaklah walau agak sejenak, tentu kamu akan dapat mendengar tanda-tanda pemujaan dan perjanjian mereka yang di ulang-ulang kembali oleh gemericik air anak sunagi atau air terjun beserta sawah dan ladang. Burung-burung yang bersiul di atas dahan kayu disertai tepukan air bah ditepi sungai. Sebab mereka adalah orang yang mempunyai tangan yang sanggup menata mahkota untuk raja, membuat pedang, untuk jenderal, menenun sutera untuk pendeta, membangun mahligai untuk raja-raja, menuang perhiasan untuk permaisuri, menumbuhkan rumput untuk ternak peliharaan, menimbulkan kasih sayang bagi burung-burung. Jauh, ya jauh sekali bagi yang masih hidup menandingi mereka baik tentang bicara maupun diam. Baik makanan maupun minuman di tempat yang tertutup maupun yang terbuka.

Wahai orang-orang besar, tidaklah akan kekal patung-patung didirikan tanpa peringatan disekitarnya, dan takkan pupus tulisan-tulisan emas yang diukirkan pada halaman-halaman kubur berupa tulisan-tulisan jelek yang ditulis oleh tarikh di dalam halamannya. Dan takkan dapat mendengar telinga mati yang tuli kemerduan lagu-lagu penghibur yang di ulang-ulangi dalam nyanyian bujukan terhadap kekasih.

Sedikit, ya sedikit sekali tangan di bawah bumi ini yang sekiranya diberikan kepadanya nasib baik dalam kehidupan. Niscaya akan mendapat pemusik yang menyedapkan telinga atau anak tangan perusak yang merubuhkan mahligai dan menggoncangkan kedudukan. Atau tangan penyair yang meninggalkan bekas duka cita dan membangkitkan rasa sedih dan suka ke dalam hati. Sedikit sekali hati di dalam alam gelap ini yang dikatakan dia hidup di udara selain udara ini dan alam selain alam ini. Sesungguhnya adalah hati raja-raja besar yang dioenuhi oleh cita-cita yang besar dan angan-angan tinggi, ataupun hati pemimpin mahir yang akan memperhitungkan terhadap si zalim akan kezalimannya. Menahan tidur dari kelopak mata mereka, atau hati seorang menteri besar yang karena kefasihannya menimbulkan kerinduan hati dan menenteramkan pendengaran sehingga dapat diobatinya dengan tepuk tangan saja ruangan majelisnya.

Berapa banyak mutiara yang tak dapat dijangkau oleh tangan para penyilam sehingga masih terpendam dalam jepitan kedua kulit kerangnya, dan berapa banyak kembang harum semerbak yang belum sampai mekar telah ditiup angin panas yang membakar dia layu. Berapa banyak mas dan intan yang tak sanggup digali oleh juru tambang dari pertambangannya sehingga tertutup cahayynya di tempat tersimpannya. Berapa banyak pendapat dan tauladan hidup yang diciptakan orang biasa sehingga dia dilupakan dianggap sepi sampai pudar cahayanya. Jika seandainya dia berbaju ilmu berselimut pengetahuan akan berobahlah wajah alam dan dunia bukanlah dunia ini lagi.

Memang, diantara orang-orang desa yang telah dikuburkan ini ada yang mempunyai hati sebagai hati Hembden. Sayang tak dicatat oleh sejarah dan tak ada yang mempunyai lidah sebagai Multon, sayang tak dibuat untuknya patung peringatan, malah ada pula yang mempunyai cita-cita sebagai cita-cita Cromwel. Sayang dia tak memimpin balatentara, akan tetapi mereka hidup terpencil jauh terasing dari dunia ilmu pengetahuan dan kemajuan. Sehingga buah tangan mereka terkubur karena kebodohan dan cahaya kepintaran buah pikiran mereka padam karena kefakiran. Maka berlalulah mereka dari dunia ini, tak seorang pun yang mengingati mereka. Kemudian mereka mati dan tak seorangpun yang merasa kehilangan.

Kebahagiaanlah bagi mereka, kebodohan dan ketidak masyhuran mereka. Maka jika mereka termasuk orang besar, tentulah mereka akan melalui hari-hari kehidupan mereka dengan pertumpahan darah. Mencabik-cabik jahitan dan memperdayakan hak-hak si lemah, berusaha di balik harta dan penghidupan mereka tidak.Bahkan mereka adalah orang-orang besar, tetapi mereka terlepas dari peninggalan kebesaran dan sebutannya.

Semoga rahmat Allah melimpahi mereka. Sesungguhnya mereka telah pergi dan tidak ada yang tinggal sesudah mereka menunjukkan atas kepergian mereka selain batu-batu lama yang ditemui di jalan ke pemakaman mereka yang pernah ditulis oleh pujangga dengan syairnya :

”Wahai orang yang lewat tempat ini, hormatilah tanah ini dan jangan kamu injak dengan kedua kakimu bangkai orang yang telah mati.”

Inilah semua apa yang mereka kehendaki dari urusan hidup sesudah mereka mati, tidak mereka meminta tugu yang didirikan untuk mereka, dan tidak pula kubah yang dibangun di atas kubur mereka. Dan tidak pula buku-buku khusus dari buku-buku sejarah yang akan mencatat dan mengabadikan segala perbuatan dan pekerjaan mereka di dalamnya. Bahkan mereka tidak pula meminta sekuntum bunga yang akan menghias pembaringan terakhir mereka, dan tidak pula setetes airmata yang akan membasahi tanah pemakaman mereka. Maka alangkah qana’ah dan zuhudnya mereka.

Selengkapnya...

7:31 AM

Menjadi Orang Moderen

Ada tiga bangsa besar sebagai perbandingan kita untuk menjadi orang moderen di abad informasi saat ini. Dengan melihat sebuah perbandingan, akan tampak bahwa tidak semua bangsa-bangsa maju memiliki kesamaan memilih mana yang harus di dahulukan dan di utamakan bagi kepentingan hidup warga negara mereka. Sebagai contoh, orang Amerika lebih mendahulukan pendidikan anak-anak sebagaimana orang Eropa. Sedangkan bagi orang jepang menempati urutan ke lima.

Berikut ini kepentingan hidup dari tiga bangsa (negara) maju ini:
a. Orang Amerika
Menomor satukan pendidikan anak-anaknya, disusul oleh kehidupan keluarga, kesehatan, kualitas hidup, sahabat dan relasi, kehidupan cinta, uang, karier, bersenang-senang, dan Politik.
b. Orang Jepang
Menomor satukan kesehatan, disusul karier, kehidupan keluarga, sahabat dan relasi, pendidikan anak-anak, kualitas hidup, uang, kehidupan cinta, bersenang-senang, dan Politik.
c. Orang Eropa
Sebagaimana orang Amerika, menomor satukan pendidikan anak-anaknya, disusul oleh kehidupan keluarga, kesehatan, kualitas hidup, sahabat dan relasi, kehidupan cinta, uang, karier, bersenang-senang, dan Politik.
Dari ketiga bangsa maju ini, jelas sekali tidak berminat pada politik. Ketika 1000 orang di wawancarai dan 800 orang diberikan sample survey di tiga negara maju itu, urusan politik memang kurang diminati. Kecuali bagi kalangan politikus. Sayang sekali sumber darimana wawancara dan yang diberikan sample survey tidak begitu jelas. Untuk yang satu ini penulis minta maaf.
Apakah umumnya ke tiga bangsa ini memiliki kecenderungan materialistik, belum tentu juga. Yang jelas bagi orang Jepang kesehatan menempati urutan pertama, dan hanya pada orang sehatlah tersalurkan karier yang akan berguna bagi kehidupan keluarga. Cinta bagi orang jepang hanya menempati urutan peringkat delapan dari sepuluh urutan saja.
Walaupun berbeda, tiga bangsa maju moderen ini memilih mana yang paling penting (diutamakan), tetapi mereka memiliki sepuluh kesamaan minat. Dengan urutan sepuluh minat itu, bangsa-bangsa maju bukan bangsa yang pasrah. Melainkan bangsa yang sejatinya menciptakan kondisi dan situasi. Agar dalam bertindak dan berbuat ada perencanaan terlebih dahulu. Bagaimana dengan negara baru berkembang seperti Indonesia, jawabannya hanya ada pada pimpinan anak negeri ini. Wassalam.
Author: Postingan dari sahabat Sepin-sepi
Sumber: Dari berbagai buku ensiklopedia dan majalah

Selengkapnya...

7:30 AM

Negara Berkembang Dan Permasalahannya

Negara berkembang adalah negara yang sedang membangun menuju negara moderen. Didalamnya terdapat suatu proses perubahan di segala bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu. Untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia yang menuntut adanya perubahan sosial dan budaya sebagai pendukung keberhasilannya.

Adapun ciri-ciri negara berkembang sebagai berikut:
1. Tidak cukup makan.
2. Struktur agraria lemah, karena pemilikan tanah yang kecil.
3. Industri kurang berkembang di sebagian daerah.
4. Tidak banyak menggunakan yang dibangkitkan dengan mesin.
5. Ketergantungan ekonomi, karena perusahaan-perusahaan besar ada di tangan orang asing, atau negara tersebut masih tergantung pada luar negeri.
6. Struktur sosial yang masih feodal (menggunakan paham lama).
7. Tingkat pengangguran yang sangat besar jumlahnya dan tersebar di beberapa wilayah.
8. Tingkat pengajaran rendah atau mutu pendidikan yang kurang baik.
9. Angka kelahiran tinggi.
10. Kesehatan yang kurang memadai.
11. Orientasi kepada tradisi dan kepada kelompok.
12. Kekayaan alam belum diolah semaksimal mungkin.
Saat ini permasalahan tersebut cukup serius dan setiap negara berkembang harus melakukan proses perubahan ke arah modernisasi dengan cara melaksanakan pembangunan di segala bidang. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua pembangunan tersebut membawa kemajuan. Sering pada bidang-bidang tertentu bisa juga mengalami kemunduran.
Apabila mengalami kemajuan, berarti :
1. Masyarakat menerima adanya suatu perubahan dengan segala resikonya.
2. Masyarakat harus menyadari bahwa perubahan tersebut memang sengaja dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Karena hanya dengan perubahan melalui pembangunan akan diperoleh suatu kemajuan yang akan meningkatkan taraf kehidupan.
Apabila mengalami kemunduran, berarti masyarakat kurang siap menerima perubahan yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Terlalu banyak kekuatan dominan yang tidak menyetujui adanya perubahan.
2. Terjadinya revolusi yang mengakibatkan masyarakat mengalami disorganisasi.
3. Perubahan yang terlalu cepat karena terjadi bencana alam.
4. Dalam negara yang sedang dijajah, pihak penjajah memaksakan prubahan.
Masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat dan bangsa dalam suatu negara berkembang yang sedang berkembang adalah:
1. Kemiskinan, dan hal ini memang sangat mengkhwatirkan.
2. Kebodohan dan keterbelakangan.
3. Kurangnya tenaga ahli di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Kesehatan.
5. Pendidikan.
6. Ketahanan nasional.
Oleh karena itu, pembangunan di negara berkembang harus dilakukan semaksimal mungkin. Hal ini tidak lain adalah untuk mengatasi permasalahan-permasalahn di atas.
Secara umum, permasalahan yang dihadapi oleh negara berkembang seperti yang terdapat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin adalah tingkat kehidupan yang rendah, tingkat produktivitas yang rendah, dan pertumbuhan populasi serta tanggungan beban yang tinggi.

Kesenjangan Sosial Ekonomi
Kesenjangan sosial ekonomi merupakan suatu keadaan yang tidak seimbang di bidang sosial ekonomidalam kehidupan masyarakat. Atau adanya jurang pemisah yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin. Kesenjangan ini timbul sebagai suatu kedaan yang menggambarkan tidak adanya kesamaan kemampuan dari para warga masyarakat di bidang sosial dan ekonomi. Ada individu dalam masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya. Sehingga dapat mencapai kedudukan sosial ekonomi yang tinggi. Seperti menduduki jabatan tertentu atau berhasil menjadi orang kaya. Tetapi ada juga individu yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dengan tuntutan lingkungannya, sehingga tidak dapat meraih suatu status sosial dan ekonomi yang tinggi. Seperti hidupnya miskin, menjadi pengangguran, atau menjadi pekerja rendahan (buruh).
Berdasarkan sejarah kehidupan manusia, gejala yang menggambarkan kedaaan kaya dan miskin secara berdampingan dalam kehidupan masyarakat tidak merupakan masalah sosial. Atau merupakan gejala sosial yang wajar terjadi dalam perkembangan masyarakat. Tetapi setelah masyarakat berencana melakukan modernisasi di segala bidang penghidupan, terutama di bidang industrialisasi/ekonomi, maka timbullah nilai-nilai sosial yang baru. Seperti munculnya konsep masyarakat tradisional dan masyarakat modern, masyarakat ekonomi maju dan masyarakat ekonomi terbelakang, sehingga muncul sebagai makhluk sosial. Pada waktu itulah individu sadar akan kedudukan sosial dan ekonominya, sehingga menggolongkan dirinya sebagai orang kaya dan miskin. Kemiskinan kemudian dianggap sebagai pemicu masalah sosial yang sangat dibenci oleh masyarakat.
Diikuti oleh timbulnya kecemburuan sosial, tindakan provokasi, dan aksi-aksi sosial warga masyarakat miskin, seperti berupa gerakan demontrasi atau pemogokan dari pekerja rendahan (buruh). Tuntutan kebebasan berusaha, kenaikan gajiatau upah, dan lain sebagainya. Kemudian muncul anggapan bahwa lembaga ekonomi masyarakat belum berfungsi dengan baik. Sehingga perlu dibenahi agar lebih adil dan merata.
Bila tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka hal-hal yang bersifat kriminalitas (kejahatan) tumbuh subur dengan baik. Seperti korupsi, kolusi, nepotisme, pencurian, perkelahian, pembunuhan, penipuan, dan lain sebagainya. Tindak kriminalitas ini berhubungan langsung dengan kondisi dan proses-proses sosial ekonomi. Secara umum seperti terjadinya gerak dan perubahan sosial, persaingan dan pertentangan, konflik budaya, ideologi, politik, ekonomi, agama, dan lain-lain. Sebagai wujud imitasi (tiruan), kompensasi, identifikasi, konsepsi pribadi, dan kekecewaan yang agresif tanpa bisa berpikir panjang lagi.
Dari uraian diatas akhirnya kita tahu bahwa masalah sosial ekonomi merupakan hasil dari perkembangan masyarakat dan perubahan zaman yang begitu cepat. Terlebih lagi saat memasuki era perdagangan bebas nanti. Masalah baru apa yang akan timbul ke depannya ?, mana kita tahu. Seperti kata orang bijak, ”Biarkan waktu yang bicara anakku. Manusia hanya bisa melihat dan sulit untuk berbuat sesuatu”.
Author: Postingan dari sahabat Sepin-sepi
Sumber: Dari berbagai buku ensiklopedia dan majalah

Selengkapnya...