Wah, bahasan kita kali ini mengenai sikap seorang pemimpin Negara yang sedang menjalankan sebuah pemerintahan. Siapa tahu dari sekian banyak bangsa Indonesia yang beradab, memiliki cita-cita menjadi seorang pemimpin atau khalifah bahasa kerennya dalam agama islam. Tidak mudah menjadi seorang pemimpin, banyak tantangan dan hambatan yang merintangi jalan dimana kita berada. Oleh karena itu perlu banyak persiapan, baik secara fisik maupun mental.
Dalam tulisan kali ini, penulis mencoba memberikan empat prinsip dasar seorang pemimpin menjalankan pemerintahannya. Mungkin apa yang penulis sampaikan masih sebatas wacana di atas kertas dan masih banyak terdapat kekurangan di sana sini.
Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Selalu siap bertukar pikiran demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Maksudnya adalah melihat segala sesuatu melalui keinginan rakyat. Apa yang mereka ingin kerjakan dan lakukan. Sebagai seorang pemimpin yang baik, tanyalah pada diri sendiri bagaimana seandainya saya bertukar tempat dengan mereka. Apa yang harus saya lakukan seandainya rakyat merasa tidak puas mengenai kepemimpinan saya selama ini.
2. Berpikir secara manusiawi dalam menangani berbagai masalah, bukan dengan tangan besi. Maksudnya adalah melakukan pendekatan dalam situasi yang berbeda terhadap masalah atau gejolak sosial yang bisa muncul setiap saat ke permukaan. Jangan bertindak secara diktator menangani setiap masalah. Percayalah, seorang pemimpin yang diktator tidak akan bertahan lama. Bagai bom waktu, rakyat bisa saja berpura-pura patuh untuk sementara waktu. Akan tetapi, keresahan akan segera berkembang. Kemudian timbul sebuah pergerakan dimana semua rakyat bersatu dan mengadakan perlawanan dalam menentang sang tiran. Kalau sudah begini keadaannya, terjadi kekacauan dimana-mana.
3. Berpikir untuk maju, dan percaya akan kemajuan bersama. Maksudnya adalah percayalah akan kemajuan dan pikirkan perbaikan dalam semua tindakan yang dikerjakan selama ini. Selalu mengadakan evaluasi selama periode waktu tertentu. Karena setiap rakyat selalu memperhatikan tindak tanduk pemimpinnya dan mempertanyakan kemajuan yang tercapai selama ini untuk mereka. Baik itu sarana maupun prasarana yang ada.
4. Luangkan waktu untuk berunding dengan diri sendiri. Maksudnya, sekali-kali merenungkan apa yang bisa diberikan untuk rakyat yang dipimpinnya selama ini. Seorang pemimpin harus bisa berunding dengan diri sendiri dan berjiwa besar. Gunakan kesendirian untuk menemukan pemecahan bagi masalah pribadi dan negara. Jadi, luangkan sejumlah waktu sendirian tiap hari hanya untuk berpikir. Sadari dimana batas kelemahan diri sendiri.
Empat prinsip tersebut benar-benar harus bisa diterapkan semaksimal mungkin agar mendapat dukungan serta kerja sama dari rakyat. Seperti tertuang dalam demokrasi yang menyatakan: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ingat tiga hal tersebut. Terus, bagaimana hal itu bisa tercapai ? Tergantung dari masing-masing individu seorang pemimpin. Bila menyangkut masalah hati dan pikiran, siapa yang tahu. Namun bila seorang pemimpin yakin akan kualitas dirinya, bukankah hal tersebut bisa tercapai. Memang pada hakikatnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akhir kata, ingatlah apa yang pernah Faust katakan, “Nah, disinilah aku, si goblok yang malang ! Tak lebih bijak dari sebelumnya”
Live.... Love.... and Laugh....
Mau Tahu Yang Lain ....
Blog Archive
-
▼
2008
(8)
-
▼
December
(8)
- Seputar Sejarah Islam (ASAL USUL KERAJAAN DAULAT U...
- Sukses Dalam Pergaulan ?, Siapa Takut !
- KESUSASTERAAN LAMA DAN BARU INDONESIA TEMPO DULU
- Karya Sastra Oleh Kelana Tiga Zaman
- Karya Sastra
- Menjadi Orang Moderen
- Negara Berkembang Dan Permasalahannya
- BAGAIMANA SIKAP SEORANG PEMIMPIN NEGARA YANG BAIK ...
-
▼
December
(8)
7:21 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment