Kelana tiga zaman yang ikut memberikan sumbangan tulisannya pada sepin-sepi...
CINTA
Oh tuhan, benarkah cinta itu bertalian dengan airmata ?. Bila engkau mengatakannya demikian, izinkan aku memulainya untuk mencari sebuah cinta yang besar pengorbanannya. Tertata rapi beralaskan kasih sayang yang manis bagai lautan yang biru. Di dalamnya terdapat kebenaran sederhana tentang cinta. Ingin aku mendapatkannya dan mulai dari awal untuk meneduhkan hati seseorang yang membuat hidupku jadi berarti. Pertama kali kukenal, ia menyapa dengan sebuah senyuman. Kemudian senyum itu tak lagi berarti untuk menghiasi hari-hariku yang penuh mimpi.
Masih teringat dalam pikiranku ia pernah berkata, ”Bahwa dunia ini akan terasa hampa tanpa ada cinta didalamnya”
Mendengarnya membuatku seperti berada di waktu dan dunia yang lain. Namun ia yang pertama kali datang dalam hidupku dan selalu mengisi hatiku. Menyanyikan sebait lagu dan membuat bayangan liar dalam diriku. Mengisi jiwa penuh lika liku cinta dan kasih sayang kemanapun aku pergi. Tak pernah merasa sendiri dan takkan merasa kesepian. Tangannya selalu kugenggam agar selalu bisa berada dekat dengannya. Tapi, berapa lama semua itu bisa bertahan. Bagaikan mengukur hari demi hari yang tak pernah tahu apa jawabannya.
Aku sangat membutuhkannya, dan berapa banyak yang bisa kukatakan. Seperti pijaran lampu yang mulai redup saat ia berada dalam lukisan tanpa warna. Setiap hari berharap agar bisa bertemu lagi dan ia menyambutku penuh tawa dan senyuman. Bila rindu menyelinap dalam jiwa untuk mengembalikan cintanya yang telah hilang. Saat kulihat kapal telah berlayar jauh dan tak tahu kapan akan kembali lagi.
”Mungkinkah semua itu bisa tertata lagi ?, hanya waktu yang berbicara”
Dalam tidur aku mendapat mimpi melihat seekor burung yang sedang terbang melintasi pekatnya malam. Mencari tangisan dalam angin ketika sayapnya telah patah. Saat terbangun dari tidur keesokan hari, ingin rasanya diriku mengarungi lautan yang luas hanya untuk mencoba menemukan keteguhan hatiku.
Bila malam telah tiba, kulangkahkan kaki pergi ke sebuah taman usang untuk menemukan arti dalam gelap malam. Apa yang kucari hanya untuk menggapai hatinya, walau hembusan angin membuatku sendiri dalam kegelapan. Aku hanyalah manusia biasa yang tak ingin merasakan sepi menanti dalam kabut yang penuh bercak kehidupan. Karena menahan perasaan rindu di antara batas penglihatan, ketika berada di suatu pulau dan hidup terasa asing.
Temanku pernah berkata, ”Jalan hatimu telah patah yang membuat dirimu menderita”
”Aku selalu berusaha menghilangkannya, tetapi semua itu sia-sia belaka. Seperti menangis dalam hujan”, jawabku penuh kepalsuan.
”Kawan, kau harus bisa menyambut pagi seperti burung-burung yang bernyanyi. Agar hidupmu selalu ceria”, kembali temanku ini memberikan semangat.
Perlahan nafasku terasa berat. ”Sayang aku bukan bagian dari sayap mereka. Kau tahu kenapa ?, karena diriku hanya bisa berdoa dalam keadaan putus asa”
Kukatakan sekali lagi pada temanku ini. ”Itulah semua tentang diriku”
Aku sendiri tak tahu kenapa pasangan hidupku mengucapkan selamat tinggal. Dan membiarkanku tahu bahwa selamanya ia pergi bersama cintaku.
Pernah ku memohon padanya, ”Kenapa kau tega membuatku menangis ?”
Ia hanya bisa menjawab, ”Hanya beberapa yang bisa berubah, mungkin dilain waktu. Biarkan aku menghadapi kenyataan yang tidak pasti dan biarkan diriku merasakan kehilangan dirimu”
Kata-kata mutiara itu membuat mataku sebening embun pagi hari. Lalu aku berkata padanya, ”Kembalilah padaku, dan kita berdua akan bahagia selamanya”
Seketika itu juga pasangan hidupku bibirnya melingkarkan senyum terakhir padaku dan berkata, ”Mungkin hari ini aku bisa membuatmu tinggal bersama hanya untuk sebuah senyuman dalam cinta. Tapi..., aku ingin menunjukkan padamu kebahagiaan dalam dunia ini sangat sulit untuk diraih”
Setelah semua usai baru aku sadar, ternyata masa lalu seperti cahaya yang menyinari sudut mataku. Penuh kabut dan membentang dimana jalan kita berada.
Sampai sekarang diriku bagaikan orang asing berdiri tegak menatap kota yang hilang. Membayangkan bagaimana malam bisa berubah dan membagi cinta diantara liku-liku waktu. Seperti air yang mengalir dalam sebuah sungai, gelap dan terlalu dalam. Kita bisa tergelincir tanpa bisa kembali lagi. Mungkin kemarin kita bisa melihat bahwa semuanya terlalu jauh, namun bisa berubah dalam sekejap membentuk bayangan yang menggantung. Begitu dekat dengan tempat tinggal kita.
Cuma satu pintaku dan berkata padanya kenapa aku meninggalkan kehidupan dan aku sendiri tak tahu kenapa. Sebatas mencoba memahami bagaimana hidup bisa terjadi dan memulainya lagi dengan kesendirian. Aku tahu, bahwa ia mencintaiku dengan tulus dan memberikannya untukku. Ia yang memberiku semangat untuk bebas dan diriku sangat senang melakukannya.
Seperti sebuah buku yang kita baca halaman demi halaman, cinta yang telah hilang membuatku percaya bahwa meja tanpa kaki hanya untuk satu orang. Yaitu diriku yang berdiri dalam sebuah ruangan, ketika musik menyediakan minuman sebagai persembahan untuk sebuah kenangan yang suram.
Author: Kelana Tiga Zaman
Cerpen ini dipersembahkan khusus bagi Yang Muda Yang Bercinta. Akhir kata, selamat membaca.
Live.... Love.... and Laugh....
Mau Tahu Yang Lain ....
Blog Archive
-
▼
2008
(8)
-
▼
December
(8)
- Seputar Sejarah Islam (ASAL USUL KERAJAAN DAULAT U...
- Sukses Dalam Pergaulan ?, Siapa Takut !
- KESUSASTERAAN LAMA DAN BARU INDONESIA TEMPO DULU
- Karya Sastra Oleh Kelana Tiga Zaman
- Karya Sastra
- Menjadi Orang Moderen
- Negara Berkembang Dan Permasalahannya
- BAGAIMANA SIKAP SEORANG PEMIMPIN NEGARA YANG BAIK ...
-
▼
December
(8)
7:37 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment