Sebagai bahan renungan, marilah bersama-sama kita baca karya sastra seorang penulis dari Pujangga Besar bangsa Mesir tempo dulu yang bernama MUSTHAFA LUTHFI AL-MANFALUTHI (1876-1924 M). Judulnya adalah ”Kematian”. Anda ingat dengan kematian anda sendiri ? Sadarilah mulai sekarang bahwa hidup ini tidak semata mengejar uang dan kekuasaan. Begitulah kata Pujangga Mesir yang satu ini.
”Kematian”
Genta telah berbunyi menandakan sore telah berebut senja. Sedang keindahan siang berangsur-angsur menghilangkan diri dari pandangan mata. Dalam pada itu kumpulan-kumpulan binatang ternak telah kembali dari padang-padang rumput pulang ke kandangnya. Dari belakang kelihatan digiring oleh penggembalanya dengan tongkat yang ada ditangannya. Bukan hendak menyakiti binatang-binatang gembalaan kesayangan mereka, melainkan menjaga jangan sampai binatang-binatang itu tersesat di jalan, tentu segera ditunjukkannya ke arah jurusan yang benar.
Alam luas terbentang ini mulai ditutupi oleh tabir kegelapan seakan-akan tertidur sebagai manusia tidur. Hingga tak lagi dipedulikannya betapa dingin dan hantu malam serta kesepian yang menakutkan telah menjalar keseluruh pelosoknya. Sehingga tak ada lagi yang kedengaran kecuali nyanyian burung perkutut yang memuji-muji dan berterima kasih kepada bulan yang telah memberikan cahaya. Menyebabkan kedua sayapnya berkilau-kilauan bersama suara katak yang membawa keluhan bumi ini terhadap Allah SWT. Disebabkan manusia telah menginjak-injak dan merusakkan dasar-dasar tempat mendirikan rumah yang disucikan.
Disana, dibawah naungan pohon-pohon kayu besar yang telah kering, kelihatanlah penghuni sebidang tanah itu tertidur lama. Ia bahkan lebih dari lama, sebab tidurnya itu adalah tidur abadi yang tiada akan berakhir.
Udara yang sejuk nyaman di pagi hari, kicauan burung di udara, kokok ayam jantan, diiringi suara genta dan lonceng serta bunyi telapak kaki binatang ternak. Semuanya itu tidaklah akan dapat membangunkan mereka dari tidur yang tak ada kesudahannya itu lagi.
Apakah mereka diterpa hembusan angin badai, sebab tak tampak sedikitpun cahaya pelita yang dinyalakan di gubuk mereka sekalipun hari telah malam. Sedangkan isteri yang patuh taat tak pula tampak keluar masuk yang akan menyediakan makan malam untuk mereka. Anak-anak kecil yang penuh riang menyambut kedatangan mereka tidak pula ada.
Orang-orang yang tertidur dan diam ini, kemarin masih sangat gagah kuat perkasa. Pundaknya masih sanggup menyandang bajak menggerakkan luku membalik-balikkan bumi. Dan dahan-dahan kayu besar pecah berkeping-keping bekas pukulan kapak dan linggis mereka.
Kemarin mereka masih kelihatan riang gembira, bersiul bernyanyi diliputi kebahagiaan dalam segala macam hidup yang mereka lalui. Mereka bersuka cita menyimak bunyi telapak ternak mereka diatas lumpur, seolah-olah mendengar bunyi suara gitar dipetik. Mereka menikmati kesenangan tidur diatas dahan kayu yang telah kering, sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain dalam gedung di atas kasurnya yang tebal. Mereka rasakan kelezatan sesuap nasi kering sebagaimana orang-orang kaya mengecap pelbagai macam hidangan di atas meja. Mereka rasakan kesejukan dan kepuasan meminum seteguk air yang mereka sauk dengan telapak tangan. Sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang meneguk anggur murni dari gelas kristal atau cangkir emas.
Orang-orang terpendam tak dikenal ini yang tidak pernah didirikanbaginya tugu-tugu peringatan atau dibikin kubah-kubah atas pemakaman mereka, adalah termasuk orang-orang besar dan hormat didalam masa hidupnya. Sebab mereka berkasih-kasihan antara satu sama lain, yang takir tidak mendengki terhadap yang kaya, si kuat tidak menindas terhadap si lemah. Tidak ada pada mereka sifat-sifat dengki, busuk hati, menipu, mengicuh — menohok kawan seiring menggunting dalam lipatan — dan mereka tidak menyembah Tuhan selain dari pada Allah. Demikianlah mereka kemarin, dan kini mereka telah diapit kubur, maka rahmat serta karunia Allah jualah atas mereka, dihari mereka berada di atas bumi dan sesudah mereka di dalam perut bumi ini.
Maka hendaklah orang-orang yang senantiasa menunjukkan pandangan dalam hidup ini untuk mencari kebesaran dan keutamaan — baik harta benda kekayaan maupun pengaruh dan kedudukan — mencoba merundukkan diri diatas tanah perkuburan yang pasirnya berserakan. Dan batunya bertaburan kian kemari, akan sampai pula kepada kejadian yang sama dengan orang-orang yang telah di dalam kubur ini. Oleh karena itu hendaklah mereka menahan diri dari menonjolkan kemuliaan dan pengaruh, sebab banyak emas perak dan pengikut, kurangilah dari diri mereka senyum dan tertawa yang menggambarkan penghinaan, dan memandang rendah kepada orang lain. Dan hendaklah mereka ketahui bahwa jalan kemuliaan dan kebesaran yang mereka lalui. Sekalipun indah cantik menghijau penuh dilindungi ranting dan dahan-dahan yang lebat ditutupi kembang dan bunga yang aneka warna, tak dapat tidak akan berakhir juga.
Wahai orang-orang yang tenggelam dalam kenikmatan hidup yang senantiasa menonjolkan kemuliaan dan pengaruh mereka, bermegah-megah dengan kekuatan dan kebagusan, janganlah kamu merendahkan orang-orang malang yang telah dikuburkan ini. Jika kamu lihat tubuh mereka telah hancur berserakan, kubah mereka runtuh serata bumi, nama-nama mereka tidak kelihatan di lukis dengan berbagai macam warna indah di atas papan nisan mereka. Simaklah walau agak sejenak, tentu kamu akan dapat mendengar tanda-tanda pemujaan dan perjanjian mereka yang di ulang-ulang kembali oleh gemericik air anak sunagi atau air terjun beserta sawah dan ladang. Burung-burung yang bersiul di atas dahan kayu disertai tepukan air bah ditepi sungai. Sebab mereka adalah orang yang mempunyai tangan yang sanggup menata mahkota untuk raja, membuat pedang, untuk jenderal, menenun sutera untuk pendeta, membangun mahligai untuk raja-raja, menuang perhiasan untuk permaisuri, menumbuhkan rumput untuk ternak peliharaan, menimbulkan kasih sayang bagi burung-burung. Jauh, ya jauh sekali bagi yang masih hidup menandingi mereka baik tentang bicara maupun diam. Baik makanan maupun minuman di tempat yang tertutup maupun yang terbuka.
Wahai orang-orang besar, tidaklah akan kekal patung-patung didirikan tanpa peringatan disekitarnya, dan takkan pupus tulisan-tulisan emas yang diukirkan pada halaman-halaman kubur berupa tulisan-tulisan jelek yang ditulis oleh tarikh di dalam halamannya. Dan takkan dapat mendengar telinga mati yang tuli kemerduan lagu-lagu penghibur yang di ulang-ulangi dalam nyanyian bujukan terhadap kekasih.
Sedikit, ya sedikit sekali tangan di bawah bumi ini yang sekiranya diberikan kepadanya nasib baik dalam kehidupan. Niscaya akan mendapat pemusik yang menyedapkan telinga atau anak tangan perusak yang merubuhkan mahligai dan menggoncangkan kedudukan. Atau tangan penyair yang meninggalkan bekas duka cita dan membangkitkan rasa sedih dan suka ke dalam hati. Sedikit sekali hati di dalam alam gelap ini yang dikatakan dia hidup di udara selain udara ini dan alam selain alam ini. Sesungguhnya adalah hati raja-raja besar yang dioenuhi oleh cita-cita yang besar dan angan-angan tinggi, ataupun hati pemimpin mahir yang akan memperhitungkan terhadap si zalim akan kezalimannya. Menahan tidur dari kelopak mata mereka, atau hati seorang menteri besar yang karena kefasihannya menimbulkan kerinduan hati dan menenteramkan pendengaran sehingga dapat diobatinya dengan tepuk tangan saja ruangan majelisnya.
Berapa banyak mutiara yang tak dapat dijangkau oleh tangan para penyilam sehingga masih terpendam dalam jepitan kedua kulit kerangnya, dan berapa banyak kembang harum semerbak yang belum sampai mekar telah ditiup angin panas yang membakar dia layu. Berapa banyak mas dan intan yang tak sanggup digali oleh juru tambang dari pertambangannya sehingga tertutup cahayynya di tempat tersimpannya. Berapa banyak pendapat dan tauladan hidup yang diciptakan orang biasa sehingga dia dilupakan dianggap sepi sampai pudar cahayanya. Jika seandainya dia berbaju ilmu berselimut pengetahuan akan berobahlah wajah alam dan dunia bukanlah dunia ini lagi.
Memang, diantara orang-orang desa yang telah dikuburkan ini ada yang mempunyai hati sebagai hati Hembden. Sayang tak dicatat oleh sejarah dan tak ada yang mempunyai lidah sebagai Multon, sayang tak dibuat untuknya patung peringatan, malah ada pula yang mempunyai cita-cita sebagai cita-cita Cromwel. Sayang dia tak memimpin balatentara, akan tetapi mereka hidup terpencil jauh terasing dari dunia ilmu pengetahuan dan kemajuan. Sehingga buah tangan mereka terkubur karena kebodohan dan cahaya kepintaran buah pikiran mereka padam karena kefakiran. Maka berlalulah mereka dari dunia ini, tak seorang pun yang mengingati mereka. Kemudian mereka mati dan tak seorangpun yang merasa kehilangan.
Kebahagiaanlah bagi mereka, kebodohan dan ketidak masyhuran mereka. Maka jika mereka termasuk orang besar, tentulah mereka akan melalui hari-hari kehidupan mereka dengan pertumpahan darah. Mencabik-cabik jahitan dan memperdayakan hak-hak si lemah, berusaha di balik harta dan penghidupan mereka tidak.Bahkan mereka adalah orang-orang besar, tetapi mereka terlepas dari peninggalan kebesaran dan sebutannya.
Semoga rahmat Allah melimpahi mereka. Sesungguhnya mereka telah pergi dan tidak ada yang tinggal sesudah mereka menunjukkan atas kepergian mereka selain batu-batu lama yang ditemui di jalan ke pemakaman mereka yang pernah ditulis oleh pujangga dengan syairnya :
”Wahai orang yang lewat tempat ini, hormatilah tanah ini dan jangan kamu injak dengan kedua kakimu bangkai orang yang telah mati.”
Inilah semua apa yang mereka kehendaki dari urusan hidup sesudah mereka mati, tidak mereka meminta tugu yang didirikan untuk mereka, dan tidak pula kubah yang dibangun di atas kubur mereka. Dan tidak pula buku-buku khusus dari buku-buku sejarah yang akan mencatat dan mengabadikan segala perbuatan dan pekerjaan mereka di dalamnya. Bahkan mereka tidak pula meminta sekuntum bunga yang akan menghias pembaringan terakhir mereka, dan tidak pula setetes airmata yang akan membasahi tanah pemakaman mereka. Maka alangkah qana’ah dan zuhudnya mereka.
Live.... Love.... and Laugh....
Mau Tahu Yang Lain ....
Blog Archive
-
▼
2008
(8)
-
▼
December
(8)
- Seputar Sejarah Islam (ASAL USUL KERAJAAN DAULAT U...
- Sukses Dalam Pergaulan ?, Siapa Takut !
- KESUSASTERAAN LAMA DAN BARU INDONESIA TEMPO DULU
- Karya Sastra Oleh Kelana Tiga Zaman
- Karya Sastra
- Menjadi Orang Moderen
- Negara Berkembang Dan Permasalahannya
- BAGAIMANA SIKAP SEORANG PEMIMPIN NEGARA YANG BAIK ...
-
▼
December
(8)
7:35 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment