Suatu ketika penulis pernah bertemu dengan seorang Bapak Tua berpeci putih. Saat itu penulis lagi berada di dalam warteg alias warung tegal. Sambil minum kopi kental tapi kurang gula Bapak itu bertanya. ”Eh mas, pernah nggak denger sastra lama dan sastra baru ?”
Seketika penulis jadi bingung sendiri. ”Nyastra ?!@#$”, pikir penulis dalam hati. Nih orang tua mau tanya atau malah meremehkan. Emang waktu SMU dulu pernah belajar Bahasa Indonesia. Tapi karena ogah-ogahan mendengar ocehan sang guru, malah nggak konsentrasi. Nah, waktu Bapak ini menanyakan kembali, penulis cuma bisa garuk-garuk kepala.
”Sastra Pak, udah lupa tuh”, jawab penulis sok kalem. Dan Bapak Tua ini senyam senyum kayak sufi melihat raut wajah muridnya yang lagi bingung sendiri.
Kejadian ini sudah lima tahun lamanya berlalu, dan masih membekas dalam hati penulis. Soalnya malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Baiklah pembaca yang terhormat, melalui tulisan berikut ini penulis mencoba menjelaskan apa itu sastra lama dan baru yang ada di Indonesia tempo dulu. Diambil dari beberapa buku ”Pengantar Sastera Indonesia”.
Kesusasteraan di Indonesia umumnya dapat dibagi menjadi dua zaman :
1. Zaman Lama
2. Zaman Baru
Adapun kesusasteraan baru dapat kita bedakan sebagai berikut ini:
1. Masa Sebelum Pujangga Baru
2. Masa Pujangga Baru
3. Masa Angkatan 45
Soal lama atau baru dalam kesusasteraan Indonesia erat kaitannya dengan kebudayaan yang ada di Indonesia. Dalam sebuah pelajaran sosiologi dan antropologi kita pernah mengenal kebudayaan. Arti dari kebudayaan secara singkat adalah hasil daya upaya manusia dalam membentuk sebuah masyarakat. Jadi, soal lama atau baru dalam kesusasteraan adalah bagaimana masyarakat membentuk kebiasaannya sendiri dengan berbagai macam ciri khas setiap individu tanpa melupakan sumber dari sastra tersebut.
Misalnya kesusasteraan Baru yang ada di Indonesia terpengaruh oleh kesusasteraan yang ada di Barat. Sedangkan kesusasteraan Lama tidak terpengaruh sama sekali dan memegang teguh prinsip mereka dari dulu. Baiklah, mari kita tinjau lebih jauh lagi.
Kesusasteraan Lama Indonesia
Kesusasteraan Lama di Indonesia masih terpengaruh oleh kekuasaan adat dan kebiasaan yang telah turun temurun. Anggotanya tidak bebas dalam menyatakan pendapat atau perasaannya yang berbeda dari kebiasaan yang telah ada. Mereka tidak berani melawan kebiasaan tersebut yang telah turun temurun itu. Jadi setiap hasil seni sastranya menggambarkan kesederhanaan dalam bentuk dan isinya.
Semua puisi lama memiliki bentuk yang sama, demikian pula prosanya. Oleh sebab itu maka kesusasteraan lama dianggap statis, tetap tiada berubah-ubah. Hampir seluruh prosa lama menggambarkan kegagahan dan kemewahan seorang raja atau pemimpin dengan puterinya yang cantik serta pahlawannya yang berani.
Kesusasteraan Baru Indonesia
Berbeda dengan kesusasteraan lama, maka kesusasteraan baru tidak lagi terikat oleh kebiasaan lama dan adat yang telah usang. Kesusasteraan baru mencerminkan kehendak bebas dari kungkungan kebiasaan dan adat kuno, lebih bersifat perseorangan (individu). Pribadi pengarang menjadi soal mutlak. Tidak lagi seragam, melainkan telah berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan pribadi yang menjadi penggugahnya.
Itulah sebabnya mengapa kesusasteraan baru dianggap lebih dinamis (bersifat terbuka), hidup, beraneka ragam menurut keinginan pribadi masing-masing untuk menciptakan sebuah karya sastra. Prosa baru tidak lagi menggambarkan alam istana yang penuh kemewahan hidup raja-raja dengan putrinya yang cantik serta pahlawannya yang gagah perkasa. Melainkan bercerita tentang kehidupan manusia biasa dengan segala tabiatnya, serta keinginan yang dilapisi oleh suka maupun duka. Tegasnya kesusasteraan baru membawa kita ke dalam dunia nyata, bukan dunia penuh khayalan.
Dari dua perbedaan yang disebutkan di atas, lahirlah pujangga pada zaman mereka masing-masing. Perbedaannya cukup menyolok, baik dalam pandangan hidup dan cita-cita, maupun saat mencurahkan isi hati dan pikiran. Perbedaannya dapat kita lihat dibawah ini.
- Pujangga Lama
Sangat terikat dengan kebiasaan dan adat istiadat lama, tidak berani mengemukakan kesalian pribadinya sendiri, dalam mengemukakan pendapat berlaku sebagai seseorang yang selalu bersifat berat sebelah (yang baik dipuji setinggi bintang di langit, kalau buruk selalu dihina atau dimaki habis-habisan), ide cerita senantiasa berkisar seputar perjuangan antara baik dan buruk sifat manusia, diakhiri kemenangan di pihak yang baik dan bagi pihak yang jahat pasti kalah.
- Pujangga Baru
Tak mau lagi terikat oleh adat istiadat yang membelenggu, mementingkan keaslian pribadi, dalam mengemukakan suatu pendapat berlaku sebagai orang yang adil, ketika melukiskan suatu kebaikan atau keburukan berpegang pada hukum yang menyatakan baik dan buruk itu tak ada jurang pemisah, tak selamanya kemenangan diperoleh oleh pihak yang baik dan demikian pula sebaliknya.
Wah, ternyata perbedaan antara kesusasteraan lama dan baru itu cukup banyak ya. Walaupun ada juga ciri khasnya yang sama menurut penulis. Yaitu sama-sama menuangkan isi pikiran dalam merangkai kata menjadi kalimat. Oke, sampai disini dulu pembahasan kita mengenai nyastra lama dan nyastra baru tempo dulu di Indonesia. Salam buat sastrawan muda maupun yang udah pada bangkotan di abad Teknologi dan Informasi. Semoga mendapat pencerahan walau sinar mentari tak lagi bernyanyi seperti dulu.
Live.... Love.... and Laugh....
Mau Tahu Yang Lain ....
Blog Archive
-
▼
2008
(8)
-
▼
December
(8)
- Seputar Sejarah Islam (ASAL USUL KERAJAAN DAULAT U...
- Sukses Dalam Pergaulan ?, Siapa Takut !
- KESUSASTERAAN LAMA DAN BARU INDONESIA TEMPO DULU
- Karya Sastra Oleh Kelana Tiga Zaman
- Karya Sastra
- Menjadi Orang Moderen
- Negara Berkembang Dan Permasalahannya
- BAGAIMANA SIKAP SEORANG PEMIMPIN NEGARA YANG BAIK ...
-
▼
December
(8)
7:40 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment