7:44 AM

Seputar Sejarah Islam (ASAL USUL KERAJAAN DAULAT USMANIYAH)

Pernahkah anda membaca buku atau mendengar tentang sejarah umat islam di abad pertengahan. Bahasa kerennya Middle Ages. Dulu, waktu penulis masih sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP, sampai SMU sulit sekali menemukan buku pelajaran agama yang membahas sejarah umat islam masa lampau. Kalaupun ada, hanya sebagian kecil saja. Mungkin ini hanya sebatas pandangan dan pengalaman pribadi penulis saja, sejak memasuki bangku sekolah. Bagaimana dengan anda sendiri ?. Penulis rasa anda sendiri yang tahu jawabannya.

Harap diperhatikan baik-baik: “Tulisan dalam artikel ini tak ada maksud untuk menghasut atau menimbulkan keresahan bagi yang membacanya. Dan tak ada niat untuk menjelekkan agama lain atau suku bangsa yang terlibat dalam tulisan kali ini. Sebatas sejarah singkat yang penulis angkat dari berbagai buku bacaan dan berselancar di internet dalam mencari berbagai informasi yang berhubungan dengan tulisan ini”.


Mari Kita Mulai.

Sesudah runtuhnya kerajaan Baghdad dan naiknya bangsa Mongol dan Tartar, boleh dikatakan tak ada lagi sebuah Kerajaan Islam yang besar. Dan dapat menjadi tumpuan harapan Dunia Islam. Negeri-negeri Islam terpecah belah, apalagi wilayah kekuasaan Islam memang telah luas sekali. Tetapi dengan timbulnya Kerajaan Usman atau Daulat Usmaniyah, Islam kembali menunjukkan tajinya dan dapat menyambung usaha membangun kejayaan mereka kembali. Daulat Usmaniyah sampai pada permulaan abad ke dua puluh telah dapat mempertahankan kemegahan Islam.

Seratus tahun yang telah lalu, negeri-negeri di Eropa Timur (Balkan) adalah kerajaan yang bernaung dibawah perintah kerajaan Turki Usmani. Kekuasaannya meluas di bekas kekuasaan kerajaan Byzantium (Constantinopel). Setelah negeri besar itu ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada pertengahan abad kelima belas (1435). Dan pernah pula Sulaiman Al-Qunani dua kali menyerang kota Vienna, pusat kerajaan Austria. Maka sampai sekarang ini masih terdapat kaum muslimin di negara Bulgaria, Yugoslavia, Cekoslavia, Polandia, yaitu dari keturunan pahlawan Islam Turki Usmani yang pernah menancapkan bendera ”Bulan Bintang” di negeri-negeri itu.

Negeri-negeri Islam seperti Mesir, Hejaz, Yaman, Irak, Palestina, Tunisia, Maroko, Al Jazair dan Tripoli, semuanya itu dahulunya adalah wilayah kerajaan Turki Usmani juga. Bangsa Turki memang bangsa yang gagah perkasa, keturunan darah Taurani yang tahan panas dingin dan sabar dalam berperang. Darah Taurani bersamaan dengan darah Mongol dan Tartar. Maka bangsa pengembara yang gagah dan perkasa itu telah menjadi bangsa Pahlawan-Islam setelah mereka memeluk agama Islam dan mengucapkan dua kalimat Syahadat: ”Tiada Tuhan Selain Allah, Dan Muhammad Adalah Utusan Allah”.

Bahkan raja-raja Islam di Indonesia pada abad ke tujuh belas seperti raja dari Aceh dan Bantam pernah menjalin hubungan dengan kerajaan Turki Usmani. Dan pernah meminta pengakuan memakai gelar ”Sultan” dari Istambul. Dalam bebrapa istana Raja-Raja di Indonesia masih dapat dilihat sisa-sisa hadiah yang dijadikan lambang kebesaran, karena hadiah tersebut dari Istambul. Sebagai contohnya adalah lambang kerajaan Minangkabau-Islam ialah sebuah cap raja Turki (bernama Thaghraai) masih disimpan oleh anak cucunya di Pagaruyung. Ulama yang ada di Indonesia pada saat itu pernah belajar dan mendalami agama Islam di Mekah. Tatkala negeri Mekah dibawah pemerintahan kerajaan Turki Usmani.

Nama kerajaan Usmaniyah itu diambil dari nama pendahulu mereka yaitu Sultan Ibn Sauji Ibn Arthogrol Ibn Sulaiman Syah Ibn Kia-Alp. Kepala kabilah Kabi di Asia Tengah. Tatkala bangsa Tartar bangkit dan menyerbu ke Dunia kaum muslimin (Islam), mereka menyerang, membakar, membunuh, dan merampas, maka Sulaiman Syah, kakek dari Sultan Usman melihat bahaya itu bagi negerinya di Mahan. Maka diadakanlah mufakat dengan anggota persukuannya yang besar itu supaya lekas pindah ke negeri lain yang lebih aman, yaitu tanah Anatolia. Sebuah daerah di Asia kecil. Kehendaknya ini dituruti oleh anak buahnya. Mereka semuapun berangkat menuju Anatolia, meninggalkan kampung halaman. Karena bila tentara Tartar masuk, tiada lagi yang bisa dipertahankan. Adapun jumlah anak buahnya yang ikut berjumlah 1000 orang berkuda. Kejadian ini terjadi dalam abad ke tujuh tahun Hijriyah.

Dalam perjalanan, mereka berhenti di negeri Achlat. Tapi tak lama kemudian tentara Tartar sampai pula ke negeri itu. Terpaksa mereka pindah ke negeri Azerbiyan. Kemudian terdengar berita bahwa gelombang bangsa Tartar itu telah jauh dari negeri asli (tanah air) mereka Mahan. Maka sultan Sulaiman Syah ada keinginan untuk kembali pulang. Lalu mereka segera kembali dan melaksanakan niat Sultan tersebut. Dalam perjalanan pulang kembali ke negeri Mahan, sekian lamanya mereka berhenti di Benteng Ja’bar dalam wilayah Orga. Setelah itu menyeberang sungai Euphrat. Tiba-tiba ada banjir besar, sang kepala kabilah Sulaiman Syah tenggelam dalam sungai yang besar itu dan tidak dapat ditolong. Jenazahnya dimakamkan dekat benteng Ja’bar.

Beliau meninggalkan empat orang putra, yaitu Sankurtakin, Kun-Togdai, Arthogrol dan Dandan. Dan anak yang pertama melanjutkan maksud Ayahnya, pulang ke kampung halaman. Anak yang kedua, yaitu Arthogrol dan Dandan meneruskan niat Ayahnya yang kedua untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Anatolia, mencari daerah yang subur. Mereka memilih tanah Erzerum. Arthogrol diangkat oleh pasukannya menjadi kepala kabilah. Adapun yang pulang kembali ke negerinya, tidak terdengar khabar beritanya lagi dalam sejarah.

Setelah kedua saudara yang kecil sampai ke daerah Anatolia, maka Arthogrol mengutus puteranya Sauji menghadap Sultan Alaed-Din Kaiqubaz, seorang raja Saljuk Rumi memohon pada baginda supaya memberikan izin berdiam di wilayah kekuasaannya. Dan memohon diberi tanah untuk bercocok tanam dan menggembalakan ternak mereka. Permohonan itu diperkenankan oleh Sultan Alaed-Din Kaiqubaz. Dalam perjalanan pulang hendak menyampaikan berita baik ini kepada Ayahnya, meninggallah Sauji.

Setelah jenazah Sauji dimakamkan dalam keadaan girang mendapatkan tanah dan sedih karena kematiannya, mereka pun meneruskan perjalanan menuju tanah yang dihadiahkan. Tiba-tiba di tengah perjalanan mereka melihat dua angkatan tentara tengah bertempur hebat. Yang satu pihak jumlahnya besar, sedang pihak lawan jumlahnya kecil. Maka timbullah semangat keadilan pada pihak Arthogrol. Dengan segera dia menyerukan anak buahnya supaya segera menyerbu ke medan perang itu dan berdiri pada pihak yang lemah. Semangat mereka bertambah ketika diketahui bahwa pihak lawan yang lebih kuat ternyata tentara Mongol. Musuh besar mereka, dan pihak yang mempertahankan negerinya dari serangan bangsa Mongol itu tentara Sultan Alaed-Din Kaiqubaz. Karena datangnya bantuan yang tiba-tiba itu, maka keadaan berbalik. Serangan Mongol dapat dipatahkan dan kedudukan tentara Saljuk yang sejak semula bertahan, memperoleh kemenangan. Dengan segera tentara Mongol mengundurkan diri.

Betapa gembira Alaed-Din Kaiqubaz mendengar berita kemenangan ini. Arthogrol lalu diundang untuk datang ke istana dan diterimanya dengan serba kehormatan. Diberi pakaian dan diberikan pula tanah serta wilayah kekuasaan lebih luas dari yang telah dijanjikan kepada putranya Sauji. Dan apabila peperangan dengan pihak musuh, Arthogrol senantiasa membawa anak buahnya memberikan bantuan kepada Alaed-Din Kaiqubaz dengan penuh kesetiaan. Setiap mencapai kemenangan, sultan memberinya hadiah berupa wilayah tanah yang baru, ditambah dengan harta benda yang banyak. Pada waktu itu tentara Arthogrol diberi gelar oleh Sultan: ”Muqaddamah Sultan (Tentara Pelopor Baginda)”. Karena bila berperang, tentara Arthogrol selalu di barisan paling depan. Pada tahun 687 hijriyah, 1288 masehi, mangkatlah Arthogrol. Sebagai gantinya sultan Alaed-Din Kaiqubaz menunjuk cucunya yang paling tua, yaitu Usman putera dari Sauji.

Pada tahun 699 hijriyah, 1300 masehi, tiba-tiba datang lagi serangan hebat bangsa Tartar ke Asia kecil. Begitu gagah dan perkasa Usman mempertahankan wilayahnya dan wilayah sultan Alaed-Din Kaiqubaz yang telah berjasa menaikkan bintangnya. Sehingga serangan bangsa Tartar dapat dipatahkan. Saat itu sultan Alaed-Din Kaiqubaz memberi gelar Usman ”Bey” karena kesetiaan dan memimpin perang dengan gagah berani. Diberi pula daerah merdeka yang luas tanahnya dan boleh memakai mata uang sendiri. Serta diperbolehkan memakai nama sendiri saat khutbah shalat Jum’at.

Selang beberapa lama kemudian sehabis merayakan kemenangan, mangkatlah sultan Alaed-Din Kaiqubaz. Sedangkan keturunannya sendiri tidak layak menjadi raja. Sehingga putuslah kerajaan Saljuk Rumi dengan sebab kematian itu. Maka terbukalah jalan bani Usman untuk naik tahta. Kedudukannya diperteguh dan memperkuat pertahanan di basis wilayah mereka dan memakai gelar ”Padisyah Aal Usman (Raja Besar Keluarga Usman)”. Memilih negeri Iskisjihar menjadi pusat kerajaan. Pada masa inilah pertama kali kerajaan Daulat Usmaniyah mulai menunjukkan nama besar keluarga mereka.

0 comments: